Saturday, December 11, 2010

Don't forget to take a breath!

saya punya satu penyakit kalo ketemu dengan seseorang yang saya suka, penyakit itu adalah saya tidak bisa mengontrol rasa nervous saya, yaaaaang pada akhirnya akan berujung dimana saya salah tingkah lalu melakukan hal-hal bodoh, aneh, dan ngak jelas. ini sangat sangat menyiksa, karena setelah saya melakukan hal bodoh itu si gebetan akan dengan mudahnya terkena serangan ilfeel ke saya, hmmm maybe that's why saya ngak pernah bisa jadian sama orang yang saya suka setengah mati, karena saya bukannya bikin si dia terkesan tapi malah ngelakuin hal-hal yang bego dan aneh di depan dia.
saya teringat midnight talk saya dengan salah satu teman lama beberapa hari lalu, waktu itu saya sempat cerita tentang penyakit saya ini, dan dia kasi saya saran yang sangat membantu.
teman saya ini bilang caranya adalah ketika saya ketemu sama si gebetan hanya ada satu hal yang harus saya ingat: JANGAN LUPA BERNAFAS!
awalnya saya ngak ngerti maksudnya dia, emang ada orang yang bisa lupa bernafas? tapi akhirnya setelah besoknya saya ketemu lagi sama si gebetan, kata-kata teman saya ini terbukti, nafas saya memang lebih sering ditahan-tahan dan ini yang bikin saya nervous terus karena (MUNGKIN, maaf saya kurang ngerti masalah kesehatan) kadar oksigen yang saya hirup jadi berkurang. and then waktu saya ingat untuk menarik nafas secara normal lagi, it works, it makes me feel better.
dan satu lagi saran teman saya untuk mengurangi rasa nervous ketika kita ketemu sama si gebetan, jangan anggap dia terlalu spesial, anggap dia biasa-biasa saja, anggap dia seperti teman-teman kita yang lain, dan semuanya akan berjalan baik-baik saja dan lancar-lancar saja. and it damn right. coba deh kalian pikir-pikir, kita hampir ngak pernah ngelakuin hal-hal aneh dan memalukan di depan orang yang kita anggap biasa-biasa saja, di depan teman-teman kita misalnya, kita luwes-luwes aja buat ngomong dan ngelakuin apapun, dan si teman juga bakal liatnya kita ngelakuin hal yg normal, yang biasa-biasa aja, beda kalo kita ngelakuin sesuatu didepan orang yang kita suka, kita serasa punya beban buat jaga image yang akhirnya bikin kita salah tingkah yang berujung ke hal-hal bego. itu karena kita selalu nganggap si gebetan ini orang yang spesial, orang yang tidak biasa, yang perlu kita treat lebih daripada orang lain, dan well berdasarkan pengalaman hal-hal kayak gitu justru bikin si gebetan jadi risih dan ngak nyaman, apalagi kalo di depan banyak orang.
mungkin ini bisa jadi satu pelajaran baru, atau satu pertimbangan baru buat kita pikirkan, cobalah untuk mem"biasakan" orang yang kita suka, jangan anggap dia spesial kalo kita lagi bareng, ini bisa bikin kita terhindar dari aksi salah tingkah yang bego di depan dia. and dont forget to take a breath. it works.

thanks to kak fuad, for the midnight talk, dan buat saran-sarannya. you're born to be the bestfriend of anyone. semoga langgeng terus deh sama si J. haha

Tuesday, December 7, 2010

Material Girl

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sempat membicarakan sesuatu yang menarik dengan salah satu sahabat saya. Kita membicarakan masalah sifat materialistis para perempuan dalam memilih calon pendamping.
Well kami berdua termasuk orang-orang yang selektif dan realistis untuk urusan cowok, kami tipe orang-orang yang tentu akan menolak cinta kalau cinta itu tidak bisa memberikan kami kehidupan yang layak seperti yang kami punya sekarang, siapa sih yang mau hidup susah?
Tapi entah angin darimana yang tiba-tiba membawa satu pemikiran yang baru bagi saya, saya merasa saya terlalu dangkal kalau mau menilai kualitas suatu hubungan hanya berdasarkan materi, it’s okay kita memang butuh materi, tapi pernahkah sebelumnya terlintas dipikiran saya kalau materi yang dimiliki pacar-pacar saya yang dulu itu hanya milik orang tuanya? Which is kalau kita mau menilai personalitynya dia belum tentu lebih baik dari cowok-cowok yang lain, hanya kebetulan saja dia terlahir di keluarga yang tepat sampai dia bisa punya fasilitas yang tidak biasa. Well saya tidak ingat apa saya pernah berpikir seperti itu sebelumnya.
Dan yang seharusnya kita pikirkan dalam memilih calon pendamping adalah masa depannya, apakah si calon berpotensi untuk menjadi orang sukses dan memberikan kita kehidupan yang layak, atau dia hanya berpotensi untuk membuat masalah dan bergantung pada orang tuanya bahkan sampai setelah kita menikah?
Dalam keluarga saya toh banyak sekali contoh yang nyata bagaimana kekayaan materi tidak menjadi acuan dalam memilih pendamping hidup. Contoh yang paling dekat adalah orang tua saya sendiri. Ayah saya bukan berasal dari keluarga bangsawan ataupun kaya raya, ayah saya orang yang sangat biasa, sedangkan ibu saya bisa dibilang menjalani masa muda dengan segala kemewahan dan kenyamanan fasilitas dari orang tuanya, tapi ketika saya bertanya kenapa ibu saya yakin untuk menikah dengan ayah saya, ibu saya bilang kalau dia melihat potensi besar dalam diri ayah saya, ada sikap tanggung jawab dan pekerja keras dalam diri ayah saya, dan ibu saya tentunya bukan hanya berteori saja, tapi faktanya pada saat mereka menikah ayah saya memang sudah bekerja dan punya penghasilan. Dan toh hasilnya saya bisa melihat sendiri bagaimana ayah saya bertransformasi dari orang yang biasa-biasa saja menjadi orang yang punya pengaruh besar, dia punya pekerjaan yang bagus, mapan, dan yang paling penting, dia mampu memberikan kehidupan yang lebih daripada layak kepada keluarganya.
Contoh lain adalah sepupu saya sendiri, sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan, terbiasa dengan fasilitas dan kenyamanan dari orang tuanya, tapi pada akhirnya dia memilih menikah dengan seorang laki-laki yang biasa-biasa saja, yang kehidupannya tidak seperti kehidupan yang selama ini dia jalani, tapi apa yang membuat sepupu saya yakin? Karena suaminya itu sarjana kedokteran sama seperti dia. See? Kita bisa melihat bahwa yang menetukan kehidupan kita akan lebih baik atau tidak di masa depan bukan apa yang calon pasangan kita miliki sekarang, tapi modal apa yang dia miliki untuk memperbaiki nasib kita nanti.
Dan ketika sampai pada pembahasan ini saya dan sahabat saya baru sadar lagi, kok pembahasan kita jauh banget ya? Seakan-akan kita udah mau merried aja, lulus kuliah aja belum.
So bagaimana kalau untuk cari pacar? Jawabannya justru akan jauh lebih simple lagi, karena kita tidak punya beban apa-apa dan tanggung jawab apapun untuk menafkahi siapapun. Mungkin bagi saya dan sahabat saya ini suatu yang baru karena sekali lagi kami terbiasa dengan fasilitas. Kalau ternyata pada saat kencan si pacar tidak punya fasilitas toh kita bisa janjian di tempat tujuan, kita kesana dengan fasilitas yang biasa kita gunakan, dia juga kesana dengan fasilitas yang biasa dia gunakan, lalu kita ketemu, menikmati waktu kencan, dan pulangnya kembali lagi kita pulang dengan fasilitas masing-masing. Yah mungkin kita tidak bisa merasakan yang namanya diantar atau dijemput pacar, but is that really matter? Sedangkal itukah kita untuk menikmati hubungan hanya dengan ukuran antar jemput?
Tapi ketika saya membicarakan hal ini dengan orang yang berbeda, orang itu memiliki pandangannya sendiri, dia bilang walau bagaimanapun kita tetap harus mempertimbangkan bibit-bebet-bobotnya si cowok, bagaimana latarbelakang keluarganya dia, ini bukan karena kita mau menguras apa yang si cowok punya, tapi sebagai suatu jaminan kalau suatu hari nanti terjadi hal-hal diluar keinginan (merried by accident misalnya) kita tau bahwa keluarga si cowok mampu menopang kehidupan kita dan anak kita selama si cowok ini belum bisa memberikan kehidupan yang layak. Karena hidup jaman sekarang itu susah, kalau kita sendiri tidak punya strategi, kita tidak mungkin bertahan. Hmm.. masuk akal juga sih, sangat masuk akal malah, kita memang harus punya pegangan kan, harus ada jaminan bahwa kita akan baik-baik saja karena kita tidak pernah tau apa yang bakalan kejadian.
So which one is better? You choose..


ternyata saya punya benih-benih materialistis sejak kecil, buktinya saya cuma mau berpose diatas mobil. ;D

Friday, November 12, 2010

Report

holaaaaaaa...
lamaaa sekali dari postingan saya yang sebelumnya, akhirnya saya menulis lagi.
well, alasan utama saya tidak memposting apapun dalam beberapa bulan terakhir adalah karena saya tidak punya bahan atau hasil-hasil pemikiran asal-asalan yang saya anggap layak dan bagus untuk saya share, tapi setelah kemarin saya sempat baca di blognya mbak upi kalau ternyata orang-orang yang sering menunda menulis di blog itu adalah orang yang perfeksionis, dengan alasan dia ngak punya ide yang bagus buat dijadiin tulisan, padahal saya bukan orang yang segitu perfeksionisnya loh, dan tulisan-tulisan di blog saya juga bukan tulisan yang bagus-bagus amat buat dijadiin bacaan.
so akhirnya saya memutuskan untuk memposting sesuatu yang bahkan sangat tidak penting untuk saya share di blog ini. heheh
saya hanya ingin melaporkan kondisi saya selama sebulan terakhir ini secara fisik dan mental (baca: saya mau mengeluh).
physically saya baru saja memasang behel, dan saya tersiksa bukan main dengan keadaan gigi saya yang tidak bisa mengunyah sementara nafsu makan saya tetap saja membabi-buta, ada saat-saat menyedihkan dimana saya ingin sekali memakan makanan yang ada di depan saya, tapi karena gigi saya sakit, jadinya makanan itu hanya saya masukkan sebentar ke dalam mulut dan kemudian saya buang, bayangkan betapa menyedihkannya saya (tapi heran kok saya ngak kurus-kurus juga yaa?!). saya juga agak bingung dengan hormon saya, entah hormon saya sedang tidak stabil dan entah apa penyebabnya, jerawat saya berkembang biak lagi (sebelumnya jerawat saya pernah berkembang biak secara sadis bulan april lalu),dan ini mengharuskan saya menjalani perawatan menyakitkan di dokter kulit dengan biaya yang tidak sedikit. tapi alhamdulillah seperti sebelumnya perawatannya berhasil, dan sekarang wajah saya normal lagi, thank you so much dokter diana amiruddin, anda sangat membantu dok, tapi anda juga menciptakan ketergantungan saya untuk rutin menjalani perawatan di tempat anda. hahaha
and then masalah tubuh saya secara keseluruhan, sepanjang tahun ini ada yang tidak beres dengan siklus menstruasi saya, saya sering telat dan bahkan ada beberapa bulan dimana saya tidak mengalami menstruasi sama sekali selama sebulan penuh. sepertinya memang ada yang tidak beres dengan hormonal saya. dan demi tuhan saya sangat tersiksa dengan influenza yang selalu datang menyerang di saat tugas menumpuk dan saat minggu-minggu midtest, Tuhan Engkau maha tahu hambamu ini bukan orang yang pintar, dalam keadaan sehat wal afiat saja belum tentu hasil pekerjaan saya bisa cemerlang, apalagi kalau saya lagi sakit.
secara emosional, well, ini pertama kalinya dalam dua tahun terakhir saya merasa betul-betul kesepian, dalam artian saya mulai seriously mengeluhkan satus single saya. kenapa saya tidak pernah berhasil menjalin hubungan dengan laki-laki manapun selama 2 tahun ini. saya tidak bisa menghitung lagi berapa banyak laki-laki yang dekat selama saya single, tapi ujung-ujungnya senyaman apapun saya dengan mereka, ada-ada saja yang pada akhirnya membuat saya merasa kalau mereka bukan orang yang tepat, setelah itu saya akan melancarkan agresi mundur teratur dan menghilang dari kehidupan para lelaki itu. teman-teman saya bertanya: kenapa saya tidak mencoba saja dulu? itu pertanyaan yang sama yang saya tanyakan pada diri saya sendiri, kenapa saya tidak bisa mencoba menjalin hubungan saja? kalau pada akhirnya memang tidak cocok, toh saya bisa keluar dari hubungan itu kapan saja, ini kan bukan pernikahan, ini hanya pacaran. tapi kalian tahu, saya sama sekali tidak tahu jawabannya, saya sudah berusaha mencari ke dalam ruang hati yang paling dalam (cih bahasa loe ta') tapi saya tetap tidak mendapatkan jawaban apa-apa. apakah saya normal? YES SURE RIGHT, saya absolutely normal, tenang saja, saya masih tertarik pada laki-laki dan sirik pada perempuan. hahaha
so what's the problem? saya tidak tahu, saya hanya tahu kalau pikiran-pikiran negatif yang sangat tidak logis dan rasional mulai berdatangan di kepala saya, apakah saya kena santet? apa ada orang yang menutup pintu jodoh saya? dosa apa yang pernah saya lakukan sampai ada orang yang sedendam itu dan tega menyantet saya dengan menutup pintu jodoh?
ouh tuhan saya menyedihkan sekali. tentu saja akal sehat saya tidak akan membiarkan pikiran-pikiran bodoh itu berkeliaran di otak saya. saya menyedihkan tapi saya tidak sebodoh itu. and then pikiran positif mulai menghibur saya. mungkin memang belum saatnya saja. tapi saya berharap saya tidak harus menunggu lebih lama lagi, saya perempuan yang independent, tapi itu bukan berarti saya tidak membutuhkan laki-laki. atau mungkin memang saya tidak membutuhkan, tapi jelas kalau saya menginginkan laki-laki, just to wake me up in the morning, to talk with me on the phone before i go to sleep, to hold my hand in movie theater, to pick me up when i have no money to pay the taxi, to come to my house when it's rain and drink a cup of hot coffee togeter, ouh god i miss that moment. kapaaaan yaaaa bisa ngerasain moment itu lagi..?
demikian laporan (baca: keluhan) dari saya. sampai jumpa di postingan berikutnya.

Thursday, August 19, 2010

everybody's changing

everybody's changing. simple words. dan sering banget kita dengar. tapi ada tidak yang pernah betul-betul memaknai kata itu. maybe ada, tp hanya beberapa, atau malah hanya segelintir.
tadi sore saya buka puasa bareng teman-teman smp saya, after all this 4 years kita baru ketemu lagi. saya sempat shock liat teman-temannya, hampir aja saya ngak kenal mereka, kalaupun kenal muka namanya yang kelupaan. mereka berubah. ada yang dulu botak sekarang gondrong, ada yang dulu ceking sekarang chubby, dan kebanyakan yang berubah tuh cewek-ceweknya, mereka rata-rata sudah berjilbab. bukan cuma dari penampilan aja, dari cara ngomong juga mereka kedengarannya lebih mature, tapi masih tetap asik kayak dulu, masih tetap fun kayak dulu.
trus saya kepikiran kalo saya yang dulu juga beda drastis dengan saya yang sekarang, saya merasa jauh lebih mature dari saya yang dulu, dan pastinya saya merasa jauh lebih baik dari saya yang dulu.
see, ternyata bener kalo semua orang itu berubah atau bakal berubah. saya pernah baca quote di majalah yang bilang "satu-satunya hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan" and that's absolutely right. even teman-teman terdekat saya, sesering apapun saya ketemu sama mereka tapi perubahan itu tetap berasa. they're grown up.
nah yang jadi masalah adalah ketika kita berubah tapi ternyata orang-orang di sekeliling kita belum berubah, ketika kita udah grow up tapi ternyata orang-orang terdekat kita belum juga grow up. dan segala ke-missunderstanding-an itu terjadi, dimana kita ngerasa kalo hell kenapa sih mereka ngak ngerti-ngerti juga. atau kita malah nyeletuk dalam hati, god childish banget sih nih anak. tapi sebenarnya itu bukan sepenuhnya salah mereka juga kalo mereka telat dewasanya, karena yang namanya dewasa kan beda-beda dari tiap orang.
trus tadi salah satu sahabat saya juga curhat kalo pacarnya minta putus padahal masalahnya ngak perlu sampe sebesar itu. cuma karena sms sahabat saya ngak nyampe-nyampe trus buntutnya mereka ribut karena sahabat saya update status tentang rasa kesalnya, yang ngak bisa diterima sama si pacar karena ngerasa masalah kayak gitu ngak perlu diumbar di twitter. disini nyata skali bisa kita liat kalo kesenjangan kedewasaan itu really really matter to a relationship. saya sih setuju juga sama si pacar sahabat saya ini, saya mengerti kalo sebagian orang ngak mau masalah yang sifatnya private harus dibawa-bawa ke dunia maya. apalagi untuk orang yang selalu menjaga supaya orang-orang bisa selalu melihat dirinya dari sisi happiness, atau orang-orang yang ngak mau hubungan mereka jadi konsumsi publik (cih, udah berasa artis aja). harusnya kan dibicarain dulu berdua supaya sama-sama jelas. tapi kembali lagi kalo kita ngeliat dari sisi sahabat saya, dimana twitter, facebook, dll itu udah jadi kebutuhan primernya dia, apapun yang dia rasa pasti saluran pembuangannya ke twitter atau facebook, not suprising sih kalo dia langsung ngeluhnya kesitu. eventhought itu juga tetap salah, yang namanya dunia maya kan ngak seharusnya juga jd kebutuhan primer. the point is disini sahabat saya sebagai orang yang belum grow up sementara si pacar udah mulai grow up setelah setahun mereka pacaran. si pacar udah bisa ngeliat kalo dari dulu masalahnya tuh kayak gini-gini juga, ribut gara-gara hal kecil, update status, dan boom! masalahnya jadi besar, tapi abis itu mereka telponan sampe tengah malam dan tadaa! masalahnya kelar. tapi kasus ini udah jadi lingkaran setan dimana mereka selalu stuck di dalamnya. masalah-ribut-telponan-baekan, gitu-gitu aja trus selama setahun. tapi sekarang si pacar udah sampe di titik "capek". si pacar udah bisa liat dimana titik salahnya, bagaimana proses lingkaran setan itu. dan pilihan jalan keluar yang ada adalah; sahabat saya yang grow up atau mereka bubar. that's it.
so guys i think everybody's changing, or everybody must be changing. karena perubahan itu proses hidup, ngak mungkin kan ada hidup yang ngak berproses. entah itu mau perubahan yang lebih baik, lebih dewasa, atau malah jadi lebih buruk, yang penting berubah dulu. setelah itu baru kita learn something dari perubahannya, kita evaluasi lagi. semua orang maunya barubah jadi yang lebih baik, but i really mean it guys, menjadi yang lebih baik itu ngak gampang, kadang malah harus sakit dulu, dan syukur kalo orang itu bisa learn something, kalo ngak gimana? finally mereka bakal kejebak terus sama kasus yang sama. hidup memang harus punya prinsip, harus konsisten, tapi hidup itu juga harus fleksibel, harus dinamis. jadi kita berubah supaya kita ngak stuck sama kesalahan-kesalahan yang sama. dan supaya pas kita dapat kasus yang sama, kita udah tau cara nge-handlenya gimana.

dedicated to my bestfriends, my fighting dreamer, tammy dan eka.
always remember to learn something honey!

Wednesday, June 16, 2010

what's the matter with being stylish?

sudah kodrat alam bahwa kadang manusia dinilai dari penampilan luarnya, itu sangat wajar. yang tidak wajar adalah ketika kamu hanya mentok sama penilaian luarnya saja tanpa ada keinginan untuk melihat lebih dalam, untuk membuktikan kalo penilaian kamu itu sudah benar atau justru salah.
disini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang dunia saya di kampus. well saya akui saya tidak sebegitu eksisnya di kampus, saya hanya datang untuk kuliah and then kalo tidak ada kegiatan lagi saya pulang ke rumah (sepertinya saya sudah menceritakan alasan saya dalam hal ini di postingan saya yang dulu). dan mungkin karena gaya ngampus saya yang seperti itu yang tidak memungkinkan bagi orang-orang di kampus untuk mengenal saya lebih dalam. dan belakangan ini saya menyadari kalo hal ini agak membawa sedikit gangguan.
baru-baru ini saya tahu ternyata selama ini ada beberapa orang teman yang menilai kepribadian saya HANYA dari gaya berpakaian saya. awalnya saya sama sekali tidak memerhatikan hal ini, saya sebenarnya sudah lama curiga kalau masalah style cukup sensitif di kalangan anak-anak kampus, masalah style bisa menjadi satu patokan untuk menggolongkan kamu ke dalam kelompok-kelompok mahasiswa tertentu. tapi waktu itu saya tidak begitu peduli sama hal ini karena well saya sebenarnya tidak pernah merasa cukup stylish. sampai saya dengar sendiri secara tidak langsung bagaimana mereka menilai saya. awalnya hanya dari percakapan-percakapan kecil dari orang-orang yang baru saya kenal kemudian keluarlah sedikit celetukan-celetukan mereka yang seolah-olah mengidentifikasikan bahwa selama ini mereka memperhatikan (penampilan) saya dan melihat saya sebagai seorang yang GAUL dan HEDON, ditambah lagi ketika mereka tau fakta bahwa saya berasal dari salah satu sma terfavorit di mks, maka lengkaplah reputasi saya dengan label "ANAK KOTA". bahkan mungkin ada beberapa pihak yang menganggap kalo saya tidak cukup smart, karena yang ada dalam pikiran saya hanya penampilan dan senang-senang saja.
saya adalah orang yang menganggap bahwa penampilan itu sangat penting, dan apa salahnya kalau kita mengikuti trend, toh itu hanya salah satu bagian dari gaya hidup saja, bukannya menjadi keseluruhan dari gaya hidup itu.
tapi apa benar seklise itu mereka menilai saya? selama ini saya rasa mereka orang-orang yang cukup cerdas dalam menilai suatu objek, tapi ternyata saya salah juga.
baru-baru saya tahu dari teman saya kalo saya dianggap tidak memiliki latar belakang pengalaman organisasi oleh salah satu senior saya, untungnya teman saya itu dulu satu sekolahan sama saya jadi dia bisa mengklarifikasi kebenaran. satu lagi bukti kalo mereka salah menilai saya. mungkin karena saya secara terang-terangan menunjukkan kalo saya tidak berminat masuk di himpunan mahasiswa sampai mereka menilainya seperti itu, saya pernah merasa yang namanya jatuh-bangunnya mengurus organisasi. dan kalaupun sekarang saya tidak bergabung dengan satu organisasipun di kampus itu karena saya tahu untuk kondisi sekarang ini sangat tidak bijak kalo saya mengambil satu tanggungjawab untuk berorganisasi, karena saya tahu saya tidak akan bisa memanage waktu saya untuk memenuhi tanggungjawab itu. saya juga ingat beberapa bulan yang lalu waktu saya lagi proses pengkaderan, salah satu senior yang bicara dengan saya bilang begini "saya tidak mau kamu cuma jadi mahasiswa barbie yang cuma pikir baju apa yang bakal kamu pake ke kampus hari kamis nanti padahal hari ini baru hari senin". wohoho i'm not that kind a girl actually. dan waktu itu juga saya tahu kalo ternyata dia menilai kepribadian saya hanya dari apa yang saya pakai.
selama ini saya dikelilingi oleh orang-orang yang bisa dibilang memiliki pasion yang besar dalam hal penampilan, tapi saya bisa menjamin kalo mereka bukan orang-orang bodoh hanya karena mereka peduli sama kata "fashion". mereka punya otak juga. mereka punya pemikiran-pemikiran yang cemerlang, mereka punya something yang bahkan mungkin kalian tidak pernah pikirkan sebelumnya. dan saya belajar banyak dari mereka. masalah gaya hidup, well saya akui saya sedikit cinta dunia, saya bergaul, tapi saya tidak suka disebut anak gaul, saya sangat memperhatikan yang namanya perawatan tubuh dan bla bla bla lainnya. tapi itu bukan berarti saya tidak memperhatikan hal-hal lainnya. saya orang yang independent, saya peduli dengan pendidikan, saya selalu mau belajar tentang sesuatu yang baru, saya punya pengalaman-pengalaman yang luar biasa, saya memperhatikan perubahan, saya belajar membaca orang lain dan memahami orang lain, saya berantusias terhadap apa yang kebanyakan orang inginkan, saya tidak bodoh, saya merencanakan masa depan saya, dan saya selalu punya skala prioritas terhadap apapun yang saya jalani, meskipun kadang kebanyakan orang tidak bisa melihat itu semua karena saya menamengi diri saya dengan sikap yang cuek, tidak peduli, saya menunjukkan kalau saya pribadi yang santai, yang not taking too seriously terhadap semua hal, padahal itu hanya agar orang lain juga merasa santai untuk dekat dengan saya, bahkan saya menamengi diri saya dengan sikap angkuh, karena kadang sikap angkuh itu memberikan saya rasa aman terhadap intimidasi dan preasure dari orang lain.
so guys ada banyak hal-hal menarik yang bisa kalian dapat dari orang-orang yang selama ini hanya kalian pandang sebelah mata dari penampilannya saja. it doesn't matter if you want to be stylish. bukan berarti jika seseorang itu sylish kemudian dia harus tidak berotak juga kan? kecerdasan seseorang terlalu sempit kalo hanya diukur dari cara berpakaiannya. come on ini sudah 2010 loh, penampilan itu penting, dengan mengikuti trend sebenarnya kamu juga sudah menunjukkan kalo kamu orang yang open minded terhadap perkembangan, dan bukan berarti juga kalian harus menjadi "korban fashion", tapi cukup dengan menghargai orang-orang yang mengikuti itu, jangan menutup pikiran kalian dan memasang lebel yang ngak-ngak padahal kalian belum kenal pribadinya kayak gimana.
so saya harap untuk orang-orang yang sempat menilai saya seperti itu bisa membaca tulisan saya ini, ini mungkin hanya upaya pembelaan diri saya, tapi saya betul-betul berharap kalian mau mengenal saya lebih dalam sebelum kalian menjudge saya.

Monday, June 14, 2010

i am back

wow setelah kurang lebih 6 bulan blog ini terbengkalai, akhirnya saya (mencoba) menulis lagi. but honestly for today i have no idea what to say (or type). banyak sekali hal yang lewat begitu saja selama 6 bulan terakhir, yang bahkan terasa hampir tidak bermakna sama sekali.
okay mari kita mulai journey to the past selama 6 bulan terakhir ini.

januari:
well it's birthday month. my birthday, my mom's birthday, my cousin's, my uncle's. and that's all so ordinary. just like previous year. kecuali untuk tahun ini saya tidak merayakan ulang tahun dengan 2 sahabat saya, tammy dan dichil, because they weren't here.
februari:
semester 2 dimulai. ouh i almost forget to tell, semester lalu IP saya 3,7 (thank god) so ini agak menjadi beban buat saya, karena saya merasa harus mempertahankan untuk semester 2. and then imbasnya adalah saya jadi sangat sangat rajin mencatat semua kuliah dari dosen, kemalasan saya masuk kuliah jadi berkurang, dan saya lebih sering tidur setelah adzan subuh kalo hari minggu gara2 begadang kerja tugas. positif sih, tp lumayan bikin capek jg.
maret:
jeng jeng jeng. ini bagian paling konyol mungkin dari 6 bulan terakhir. saya punya.. sebut sajalah dia orang yang kebetulan mengagumi saya, dan saya agak memberi sedikit harapan kedua (setelah di februari dia sempat make a move dan saya menolak), konyolnya karena saya sama sekali tidak punya simpati apa-apa sama dia, tapi saya pikir apa salahnya memberi kesempatan, toh ini bukan yang pertama kasus-kasus seperti ini kejadian, i can handle it. and then setelah berapa kali jalan, saya tetap tidak bisa punya perasaan apa-apa sama dia. so i told him that i can't make this happen. i told him the truth. tapi ternyata dia bukan tipe orang yang gampang menyerah, cenderung freak malah kalo di lihat dari cara dia "meneror" teman-teman dekat saya cuma untuk bisa dekat lagi dengan saya. dan itu berjalan cukup lama, dan cukup mengganggu. tapi sejalannya waktu saya pikir akhirnya dia capek juga dicuekin terus. so tutup cerita, we never gonna make it.
april:
bulan ini agak menguras banyak emosi. lagu lama sebenarnya, dad cheated with another woman AGAIN, dan sekali lagi saya yang secara tidak sengaja tahu tentang itu. it was breaking my heart of cours. tapi saya bisa apa, amat sangat tidak mungkin buat bicara sama ibu saya tentang ini, itu sih sama aja saya nyiksa ibu saya sendiri. so saya cuma diam (seperti sebelum-sebelumnya) dan saya benci itu. saya benci saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan, tapi saya rasa untuk sekarang itu yang terbaik, yang paling penting adalah menjaga perasaan ibu, kalian akan mengerti kalo kalian ada di posisi saya, betul-betul tidak ada jalan lain selain diam, setidaknya untuk saat ini. it's stressful month. and dad really disapointed me AGAIN.
mei:
hoho saya suka bulan mei ini. this is love month. semua hal-hal yang behubungan dengan romance terjadi di bulan ini. some guys just got my eyes on them. i'm not gonna say i'm in love because i'm not sure if this is love. saya cuma ketemu sama beberapa orang yang sangat menarik dan saya tertarik dengan mereka. that's it.
juni:
hah, bulan ini baru setengah jalan, saya libur kuliah, dan cuma menghabiskan waktu ikut meramaikan fifa world cup, go italy, go spain, go england, haha.

so that's the story. sebenarnya ada bagian-bagian dari cerita diatas yang ingin saya share lebih banyak dan lebih jelas. tapi untuk sekarang saya lagi malas membuka-buka lagi "kotak masalah" dalam otak saya. lagian saya juga sudah mulai tidak peduli, atau mungkin lebih tepatnya belajar melupakan, belajar menganggap semua masalah hanya akan menjadi besar kalo kitanya sendiri yang membesar-besarkan, belajar mengerti bahwa hidup itu sebenarnya simple, hanya saja jalannya yang kadang tidak mudah. seperti yang saya bilang tadi semuanya hampir tidak punya makna apa-apa, tidak ada yang perlu di besar-besarkan. dan saya pikir untuk sekarang itu sudah cukup, itu yang terbaik, untuk sekarang.

Monday, January 25, 2010

happy birthday to me!!

minggu 24 januari 2010
HAPPY BIRTHDAY TO ME !!!!!!!

wahhhh, ngak terasa saya sudah menginjak usia 19 tahun. hmmm ralat, terasa sekali sebenarnya, saya merasa tua sekarang. tua dalam arti saya punya kewajiban untuk harus lebih dewasa di usia sekarang ini, saya punya beban untuk harus lebih wise dalam bersikap, ngak lucu kan kalo di usia 19 ini saya masih bertingkah seperti anak ABG yang manja dan cengeng (seperti adek saya).
and wishes for this year adalah....
saya ingin bisa punya kacamata yang lebih dewasa dalam melihat dan menyikapi berbagai hal,
saya ingin selalu bisa membahagiakan orang tua saya dan selalu bisa membanggakan mereka, tanpa kebahagiaan mereka saya lebih baik ngak usah hidup, karena hanya senyuman mereka yang meng"hidup"kan saya,
saya ingin selalu bisa berada di dekat sahabat-sahabat saya, di dekat orang-orang yang saya sayangi, mereka sahabat-sahabat terbaik yang pernah ada, the best i've ever had, saya tidak akan sanggup kehilangan mereka,
dan terakhir, saya ingin pacar... hahah




and thanks for ichi buat surprise-nya, dan buat lagu if ain't got you-nya.
that's a beautiful surprise. i love you all.

Monday, January 4, 2010

Sometimes doing the right thing is not look like doing the right thing

Saya teringat masa-masa kecil saya, waktu saya masih SD. waktu itu saya termasuk salah satu murid paling berprestasi di sekolah saya. saya selalu masuk peringkat teratas kalo penerimaan rapor, dan saya selalu mempertahankan prestasi itu selama 6 tahun saya sekolah, meskipun bisa dibilang hal itu hampir mustahil untuk ukuran anak seorang pimpinan cabang bank swasta yang tiap tahun dipindah-tugaskan ke berbagai daerah. Ya, jumlah SD saya ada 5, tiap tahun saya harus pindah sekolah karena ikut ayah saya pindah tugas, hanya 1 sekolah yang saya tempati selama 2 tahun, itu yang paling lama. sangat mustahil kan kalo dilihat dari jumlah waktu saya untuk beradptasi dengan lingkungan baru, mencari teman-teman baru, dan mengejar pelajaran-pelajaran yang ketinggalan, rasanya 1 tahun itu tidak cukup, apalagi kalo saya harus melakukannya berulang-ulang setiap tahun. belum lagi image saya di muka teman-teman saya, ketika mereka tau latar belakang keluarga saya, dan pekerjaan ayah saya, mereka selalu berpikir kalo saya hanya anak yang tidak punya otak, yang hanya bisa menyuap guru supaya saya bisa tetap naik kelas karena tiap tahun saya pindah sekolah. tapi saya selalu bisa mematahkan anggapan itu, saya selalu bisa menunjukkan kalo saya anak yang pintar dan selalu dapat rangking. kalian tau kenapa saya bisa sesukses itu mempertahankan prestasi saya? karena dulu saya punya sifat buruk, dulu saya selalu mau jadi yang paling pintar, yang paling bagus, jadi kalaupun saya dapat nilai 9, tapi kalo ada teman saya yang juga dapat nilai 9, rasa senang saya itu hilang, saya merasa tidak puas, saya tidak suka kalo ada orang lain yang sebagus saya, jadi saya terus berusaha untuk dapat nilai paling sempurna. saya pernah membicarakan hal ini dengan keluarga saya (bukan orangtua saya), dan mereka bilang itu bagus, itu yang memicu semangat saya untuk dapat nilai bagus terus. what the hell?! bagus?? mereka bisa bilang begitu karena mereka keluarga saya, mereka mau saya terus jadi jadi juara, supaya saya bisa bikin mereka bangga. tapi apa mereka tau kalo mereka sudah mengajarkan saya 1 sifat iblis. sombong. mereka mendukung saya menjadi orang yang sombong, orang yang tidak bisa berbesar hati, menjadi orang yang ambisius, orang yang egois yang selalu mau menang sendiri. saya yakin mereka tidak tau itu, karena mereka dangkal. mereka membentuk saya menjadi orang yang tidak bisa menerima kenyataan kalo ada yang lebih baik dari saya. mereka hanya peduli sama hasil akhirnya, mereka tidak peduli dengan tekanan batin yang saya rasa. orang bilang saya salah satu orang yang terlalu cepat dewasa, dan mereka benar. dari kecil saya sudah sadar kalo saya tertekan, bayangkan 1 soal pecahan saja yang tidak bisa saya pecahkan bisa bikin saya menangis, karena saya tidak mau kalo besoknya pas disuruh kerja soal dipapan tulis saya tidak tau jawabannya. dan liciknya saya, dulu saya sering mengerjalkan duluan soal-soal latihan di buku saya sebelum disuruh, supaya nanti pas soal-soal itu disuruh kerja saya jadi yang paling cepat selesai karena saya tinggal menyalin jawaban saya. dan saat itu saya mulai sadar kalo saya salah, saya tidak boleh begini terus. pas masuk jaman SMP saya mulai berubah, tapi belum terlalu drastis karena saya masih bisa bertahan 2 semester di kelas unggulan (dulu smp saya sempat pake sistem rolling kelas). perubahan drastis terjadi pas saya kelas 2 smp, saya tidak lagi peduli dengan rangking 1, rengking 2, dan bla bla bla, yang penting nilai saya tidak dibawah standar. saya bukan lagi orang yang licik yang selalu mau jadi yang terbaik di kelas. dan itu membawa perubahan yang baik juga dalam pergaulan saya. dari dulu teman saya banyak, saya tidak penah punya masalah dalam bergaul, saya selalu bisa dapat teman banyak, dan bergaul dengan siapa saja meskipun saya selalu jadi murid baru, tapi waktu itu bisa dihitung jari teman yang betul-betul “teman”, yang lain hanya parasit buat saya. tapi semenjak saya sadar bagaimana tidak sehatnya sifat saya dulu, saya jadi bisa dapat teman-teman baik yang lebih banyak, mereka bergaul sama saya bukan karena prestasi saya atau latar belakang pekerjaan ayah saya, tapi mereka betul-betul ingin berteman dengan saya. dan semenjak itu saya tidak peduli lagi dengan semua pertanyaan “dita dapat rangking berapa?” persetan dengan semua rangking itu, yang penting nilai saya lulus standar nilai yang ditentukan saya sudah puas. saya sadar kalo dulu saya pernah salah, dan mungkin sekarang memang saya sudah tidak secemerlang dulu, tapi saya yakin ini yang terbaik, ini yang seharusnya buat saya, saya nyaman dengan langkah yang saya ambil ini, saya tidak tertekan, dan saya bisa mulai menghilangkan sifat iblis saya yang dulu. ini pengalaman guys, saat kalian semua sudah punya anak nanti, jangan pernah memaksakan anak kalian untuk selalu jadi yang nomor satu, tapi ajarkan mereka untuk berbesar hati kalo ada yang lebih baik dari mereka. hargai apa yang mereka hasilkan, yang penting mereka sudah berusaha menjadi yang terbaik. saya beruntung sekali memiliki orang tua yang sangat demokratis, mereka tidak pernah memaksa saya untuk menjadi apa yang mereka mau, mereka membiarkan saya membentuk kepribadian saya sendiri, termasuk cerita waktu saya masih SD itu, mereka tidak pernah memaksa saya untuk jadi juara kelas, sayanya aja yang termakan ambisi saya. mereka menghargai apapun yang yang saya hasilkan, buktinya mereka tidak pernah complain waktu prestasi saya menurun waktu SMP, mereka bahkan tidak protes waktu saya lebih pilih masuk jurusan IPS dibanding jurusan IPA waktu SMA, mereka tidak pernah marah waktu saya bilang saya lebih pilih fakultas sospol dibanding fakultas kedokteran untuk kuliah. mereka membiarkan saya berkembang dari pengalaman-pengalaman saya, mereka membuat saya yakin kalo kesalahan itu bisa mendewasakan, karena kalo tidak pernah salah kita tidak bisa belajar tentang yang benar. dan kadang-kadang melakukan hal yang benar itu tidak selalu terlihat seperti melakukan hal yang benar, kadang sesuatu yang orang lain anggap salah justru yang paling benar untuk diri kita. dan biarkan saja orang-orang itu mau bilang apa, yang penting kita tau jalan apa yang sudah kita ambil, karena yang melewati jalan itu kan kita sendiri, bukan mereka.

Saturday, January 2, 2010

happy new year!!!!

postingan pertama di taon 2010..
huaaaaa 2009 telah berlalu, dan saya ingin berbagi sedikit kisah tentang betapa 2009 menjadi the luckiest year i've ever had.
yup, lucky year. karena di taon 2009 ini saya betul-betul dikelilingi keberuntungan. dimana berkah selalu dilimpahkan kepada saya tanpa banyak usaha (terima kasih ya Allah). pertama, yang paling ditakutkan anak sma kelas 3 adalah UAN, dan saya berhasil melewatinya dengan lancar dan hasil yang memuaskan. kedua, SPMB, god thank you so much, saya tidak harus mengikuti beribetnya mengurus formulir dan mengikuti tes SPMB yang katanya soalnya beribu-ribu kali lebih susah dibanding soal UAN, karena tuhan memberi saya berkah bebas tes masuk universitas negeri dan lulus di jurusan yang saya cita-citakan pula. ketiga, proses ujian final saya di semester pertama ini berlangsung dengan lancar padahal persentasi bolos saya juga tidak sedikit. dan masih banyak keberuntungan-keberuntungan lain yang diberikan kepada saya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. tapi dari semua keberuntungan itu, keberuntungan yang pertama dan kedua yang paling besar buat saya, karena saya betul-betul hampir tidak ada usaha untuk mendapatkannya, saya tidak pernah ikut bimbel atau les untuk persiapan UAN, dan saya lulus. saya bahkan tidak pernah membayangkan bisa lulus bebas tes, dan saya menddapatkannya. dan tuhan memang maha adil, dibalik semua keberuntungan yang saya dapat, saya masih belum beruntung untuk urusan asmara tahun ini, dari sekian banyak calon saya masih belum bisa menjalin komitmen, mungkin memang balum saatnya.
anyway soal asmara saya teringat 1 hal tadi malam waktu saya dan sahabat-sahabat saya party taon baruan, kita harus bergiliran menyebutkan resolusi untuk 2010, dan yang terlontar dari mulut saya hanya "pacaran". god segitu desperatenya kah saya untuk dapat pacar?? no no no, saya tidak sedesperate itu karena sampe sekarang pun saya masih pake istilah "let it flow", kalo memang belum saatnya saya ngak bakal maksa kok. saya juga masih enjoy dengan "kebebasan" ini.
well semoga 2010 bisa jadi tahun yang tidak kalah beruntungnya dari 2009, semoga tuhan masih terus memberikan berkah dan rahmatnya kepada saya, keluarga saya, dan sahabat-sahabat saya, dan orang-orang di sekeliling saya. amien.
happy new year.. happy new amazing year.. happy new great year...