Monday, January 4, 2010

Sometimes doing the right thing is not look like doing the right thing

Saya teringat masa-masa kecil saya, waktu saya masih SD. waktu itu saya termasuk salah satu murid paling berprestasi di sekolah saya. saya selalu masuk peringkat teratas kalo penerimaan rapor, dan saya selalu mempertahankan prestasi itu selama 6 tahun saya sekolah, meskipun bisa dibilang hal itu hampir mustahil untuk ukuran anak seorang pimpinan cabang bank swasta yang tiap tahun dipindah-tugaskan ke berbagai daerah. Ya, jumlah SD saya ada 5, tiap tahun saya harus pindah sekolah karena ikut ayah saya pindah tugas, hanya 1 sekolah yang saya tempati selama 2 tahun, itu yang paling lama. sangat mustahil kan kalo dilihat dari jumlah waktu saya untuk beradptasi dengan lingkungan baru, mencari teman-teman baru, dan mengejar pelajaran-pelajaran yang ketinggalan, rasanya 1 tahun itu tidak cukup, apalagi kalo saya harus melakukannya berulang-ulang setiap tahun. belum lagi image saya di muka teman-teman saya, ketika mereka tau latar belakang keluarga saya, dan pekerjaan ayah saya, mereka selalu berpikir kalo saya hanya anak yang tidak punya otak, yang hanya bisa menyuap guru supaya saya bisa tetap naik kelas karena tiap tahun saya pindah sekolah. tapi saya selalu bisa mematahkan anggapan itu, saya selalu bisa menunjukkan kalo saya anak yang pintar dan selalu dapat rangking. kalian tau kenapa saya bisa sesukses itu mempertahankan prestasi saya? karena dulu saya punya sifat buruk, dulu saya selalu mau jadi yang paling pintar, yang paling bagus, jadi kalaupun saya dapat nilai 9, tapi kalo ada teman saya yang juga dapat nilai 9, rasa senang saya itu hilang, saya merasa tidak puas, saya tidak suka kalo ada orang lain yang sebagus saya, jadi saya terus berusaha untuk dapat nilai paling sempurna. saya pernah membicarakan hal ini dengan keluarga saya (bukan orangtua saya), dan mereka bilang itu bagus, itu yang memicu semangat saya untuk dapat nilai bagus terus. what the hell?! bagus?? mereka bisa bilang begitu karena mereka keluarga saya, mereka mau saya terus jadi jadi juara, supaya saya bisa bikin mereka bangga. tapi apa mereka tau kalo mereka sudah mengajarkan saya 1 sifat iblis. sombong. mereka mendukung saya menjadi orang yang sombong, orang yang tidak bisa berbesar hati, menjadi orang yang ambisius, orang yang egois yang selalu mau menang sendiri. saya yakin mereka tidak tau itu, karena mereka dangkal. mereka membentuk saya menjadi orang yang tidak bisa menerima kenyataan kalo ada yang lebih baik dari saya. mereka hanya peduli sama hasil akhirnya, mereka tidak peduli dengan tekanan batin yang saya rasa. orang bilang saya salah satu orang yang terlalu cepat dewasa, dan mereka benar. dari kecil saya sudah sadar kalo saya tertekan, bayangkan 1 soal pecahan saja yang tidak bisa saya pecahkan bisa bikin saya menangis, karena saya tidak mau kalo besoknya pas disuruh kerja soal dipapan tulis saya tidak tau jawabannya. dan liciknya saya, dulu saya sering mengerjalkan duluan soal-soal latihan di buku saya sebelum disuruh, supaya nanti pas soal-soal itu disuruh kerja saya jadi yang paling cepat selesai karena saya tinggal menyalin jawaban saya. dan saat itu saya mulai sadar kalo saya salah, saya tidak boleh begini terus. pas masuk jaman SMP saya mulai berubah, tapi belum terlalu drastis karena saya masih bisa bertahan 2 semester di kelas unggulan (dulu smp saya sempat pake sistem rolling kelas). perubahan drastis terjadi pas saya kelas 2 smp, saya tidak lagi peduli dengan rangking 1, rengking 2, dan bla bla bla, yang penting nilai saya tidak dibawah standar. saya bukan lagi orang yang licik yang selalu mau jadi yang terbaik di kelas. dan itu membawa perubahan yang baik juga dalam pergaulan saya. dari dulu teman saya banyak, saya tidak penah punya masalah dalam bergaul, saya selalu bisa dapat teman banyak, dan bergaul dengan siapa saja meskipun saya selalu jadi murid baru, tapi waktu itu bisa dihitung jari teman yang betul-betul “teman”, yang lain hanya parasit buat saya. tapi semenjak saya sadar bagaimana tidak sehatnya sifat saya dulu, saya jadi bisa dapat teman-teman baik yang lebih banyak, mereka bergaul sama saya bukan karena prestasi saya atau latar belakang pekerjaan ayah saya, tapi mereka betul-betul ingin berteman dengan saya. dan semenjak itu saya tidak peduli lagi dengan semua pertanyaan “dita dapat rangking berapa?” persetan dengan semua rangking itu, yang penting nilai saya lulus standar nilai yang ditentukan saya sudah puas. saya sadar kalo dulu saya pernah salah, dan mungkin sekarang memang saya sudah tidak secemerlang dulu, tapi saya yakin ini yang terbaik, ini yang seharusnya buat saya, saya nyaman dengan langkah yang saya ambil ini, saya tidak tertekan, dan saya bisa mulai menghilangkan sifat iblis saya yang dulu. ini pengalaman guys, saat kalian semua sudah punya anak nanti, jangan pernah memaksakan anak kalian untuk selalu jadi yang nomor satu, tapi ajarkan mereka untuk berbesar hati kalo ada yang lebih baik dari mereka. hargai apa yang mereka hasilkan, yang penting mereka sudah berusaha menjadi yang terbaik. saya beruntung sekali memiliki orang tua yang sangat demokratis, mereka tidak pernah memaksa saya untuk menjadi apa yang mereka mau, mereka membiarkan saya membentuk kepribadian saya sendiri, termasuk cerita waktu saya masih SD itu, mereka tidak pernah memaksa saya untuk jadi juara kelas, sayanya aja yang termakan ambisi saya. mereka menghargai apapun yang yang saya hasilkan, buktinya mereka tidak pernah complain waktu prestasi saya menurun waktu SMP, mereka bahkan tidak protes waktu saya lebih pilih masuk jurusan IPS dibanding jurusan IPA waktu SMA, mereka tidak pernah marah waktu saya bilang saya lebih pilih fakultas sospol dibanding fakultas kedokteran untuk kuliah. mereka membiarkan saya berkembang dari pengalaman-pengalaman saya, mereka membuat saya yakin kalo kesalahan itu bisa mendewasakan, karena kalo tidak pernah salah kita tidak bisa belajar tentang yang benar. dan kadang-kadang melakukan hal yang benar itu tidak selalu terlihat seperti melakukan hal yang benar, kadang sesuatu yang orang lain anggap salah justru yang paling benar untuk diri kita. dan biarkan saja orang-orang itu mau bilang apa, yang penting kita tau jalan apa yang sudah kita ambil, karena yang melewati jalan itu kan kita sendiri, bukan mereka.

No comments:

Post a Comment