Tuesday, December 7, 2010

Material Girl

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sempat membicarakan sesuatu yang menarik dengan salah satu sahabat saya. Kita membicarakan masalah sifat materialistis para perempuan dalam memilih calon pendamping.
Well kami berdua termasuk orang-orang yang selektif dan realistis untuk urusan cowok, kami tipe orang-orang yang tentu akan menolak cinta kalau cinta itu tidak bisa memberikan kami kehidupan yang layak seperti yang kami punya sekarang, siapa sih yang mau hidup susah?
Tapi entah angin darimana yang tiba-tiba membawa satu pemikiran yang baru bagi saya, saya merasa saya terlalu dangkal kalau mau menilai kualitas suatu hubungan hanya berdasarkan materi, it’s okay kita memang butuh materi, tapi pernahkah sebelumnya terlintas dipikiran saya kalau materi yang dimiliki pacar-pacar saya yang dulu itu hanya milik orang tuanya? Which is kalau kita mau menilai personalitynya dia belum tentu lebih baik dari cowok-cowok yang lain, hanya kebetulan saja dia terlahir di keluarga yang tepat sampai dia bisa punya fasilitas yang tidak biasa. Well saya tidak ingat apa saya pernah berpikir seperti itu sebelumnya.
Dan yang seharusnya kita pikirkan dalam memilih calon pendamping adalah masa depannya, apakah si calon berpotensi untuk menjadi orang sukses dan memberikan kita kehidupan yang layak, atau dia hanya berpotensi untuk membuat masalah dan bergantung pada orang tuanya bahkan sampai setelah kita menikah?
Dalam keluarga saya toh banyak sekali contoh yang nyata bagaimana kekayaan materi tidak menjadi acuan dalam memilih pendamping hidup. Contoh yang paling dekat adalah orang tua saya sendiri. Ayah saya bukan berasal dari keluarga bangsawan ataupun kaya raya, ayah saya orang yang sangat biasa, sedangkan ibu saya bisa dibilang menjalani masa muda dengan segala kemewahan dan kenyamanan fasilitas dari orang tuanya, tapi ketika saya bertanya kenapa ibu saya yakin untuk menikah dengan ayah saya, ibu saya bilang kalau dia melihat potensi besar dalam diri ayah saya, ada sikap tanggung jawab dan pekerja keras dalam diri ayah saya, dan ibu saya tentunya bukan hanya berteori saja, tapi faktanya pada saat mereka menikah ayah saya memang sudah bekerja dan punya penghasilan. Dan toh hasilnya saya bisa melihat sendiri bagaimana ayah saya bertransformasi dari orang yang biasa-biasa saja menjadi orang yang punya pengaruh besar, dia punya pekerjaan yang bagus, mapan, dan yang paling penting, dia mampu memberikan kehidupan yang lebih daripada layak kepada keluarganya.
Contoh lain adalah sepupu saya sendiri, sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan, terbiasa dengan fasilitas dan kenyamanan dari orang tuanya, tapi pada akhirnya dia memilih menikah dengan seorang laki-laki yang biasa-biasa saja, yang kehidupannya tidak seperti kehidupan yang selama ini dia jalani, tapi apa yang membuat sepupu saya yakin? Karena suaminya itu sarjana kedokteran sama seperti dia. See? Kita bisa melihat bahwa yang menetukan kehidupan kita akan lebih baik atau tidak di masa depan bukan apa yang calon pasangan kita miliki sekarang, tapi modal apa yang dia miliki untuk memperbaiki nasib kita nanti.
Dan ketika sampai pada pembahasan ini saya dan sahabat saya baru sadar lagi, kok pembahasan kita jauh banget ya? Seakan-akan kita udah mau merried aja, lulus kuliah aja belum.
So bagaimana kalau untuk cari pacar? Jawabannya justru akan jauh lebih simple lagi, karena kita tidak punya beban apa-apa dan tanggung jawab apapun untuk menafkahi siapapun. Mungkin bagi saya dan sahabat saya ini suatu yang baru karena sekali lagi kami terbiasa dengan fasilitas. Kalau ternyata pada saat kencan si pacar tidak punya fasilitas toh kita bisa janjian di tempat tujuan, kita kesana dengan fasilitas yang biasa kita gunakan, dia juga kesana dengan fasilitas yang biasa dia gunakan, lalu kita ketemu, menikmati waktu kencan, dan pulangnya kembali lagi kita pulang dengan fasilitas masing-masing. Yah mungkin kita tidak bisa merasakan yang namanya diantar atau dijemput pacar, but is that really matter? Sedangkal itukah kita untuk menikmati hubungan hanya dengan ukuran antar jemput?
Tapi ketika saya membicarakan hal ini dengan orang yang berbeda, orang itu memiliki pandangannya sendiri, dia bilang walau bagaimanapun kita tetap harus mempertimbangkan bibit-bebet-bobotnya si cowok, bagaimana latarbelakang keluarganya dia, ini bukan karena kita mau menguras apa yang si cowok punya, tapi sebagai suatu jaminan kalau suatu hari nanti terjadi hal-hal diluar keinginan (merried by accident misalnya) kita tau bahwa keluarga si cowok mampu menopang kehidupan kita dan anak kita selama si cowok ini belum bisa memberikan kehidupan yang layak. Karena hidup jaman sekarang itu susah, kalau kita sendiri tidak punya strategi, kita tidak mungkin bertahan. Hmm.. masuk akal juga sih, sangat masuk akal malah, kita memang harus punya pegangan kan, harus ada jaminan bahwa kita akan baik-baik saja karena kita tidak pernah tau apa yang bakalan kejadian.
So which one is better? You choose..


ternyata saya punya benih-benih materialistis sejak kecil, buktinya saya cuma mau berpose diatas mobil. ;D

No comments:

Post a Comment