kemarin sore saya terlibat pembicaraan ini dengan ibu saya, kami membahas ketidakpahaman kami dengan kalimat "tuhan itu adil". kami percaya dengan kalimat itu dan sebagai mahluk tuhan kami juga meyakininya dalam hati. tapi melihat realita yang ada, terkadang kata-kata itu menjadi tidak bermakna sama sekali.
contoh kasus: seorang istri yang sangat patuh pada suaminya, yang rela meninggalkan pekerjaan yang cemerlang demi memenuhi tuntutan suaminya agar bisa mengurusi anak-anak, malah mendapati suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. sedangkan fenomena lainnya dimana seorang istri yang mendominasi suami yang mengekang suaminya justru tidak pernah mengalami hal-hal seperti itu. dimanakah keadilan?
kasus kedua: seorang model yang sangat sangat cantik dan sangat sangat langsing sewaktu di interview dengan entengnya berkata "saya ngak pernah loh mbak punya impian jadi model, kebetulan aja waktu saya lagi jalan di mal ada agency yang nawarin saya".
lalu ketika ditanya rahasia kecantikannya dan kelangsingannya dia bilang "aduh kalo soal itu juga ngak ada rahasianya, saya tuh bukan tipe orang yang rajin ke salon, saya juga ngak pernah tuh pake acara diet-diet segala, emang udah dari sononya aja begini, emang saya cantik ya mbak? saya rasa saya biasa-biasa aja tuh".
okey buat semua cewek yang mati-matian diet demi menjaga berat badan, yang tiap minggu bela-belain ngeluarin duit buat ke salon, beli kosmetik-kosmetik mahal demi terlihat cantik diperbolehkan untuk melempar sesuatu ke televisinya saking kesalnya sama si model. sekali lagi dimanakah keadilan?
kasus ketiga: seorang pelajar yang biasa-biasa saja (yang tidak terlalu menonjol dalam pelajaran) bisa masuk universitas negeri dengan bebas tes. okey saya akui ini kasus saya sendiri. saya dulu bukan murid yang cemerlang di kelas, malah tiap minggu saya pasti punya catatan bolos karena malas ikut pelajaran, saya tidak pernah sama sekali ikut bimbel (bimbingan belajar), dan saya adalah murid yang paling sering tidur di kelas. tapi dekat-dekat ujian nasional ada pendaftaran masuk unhas lewat jalur JPPB atau jalur bebas tes di sekolah saya, saya yang tentunya sudah sangat sadar diri bahwa saya bukan orang yang berpotensi untuk jalur itu malah didatangi oleh wali kelas saya dan memaksa saya untuk ikut. yahh akhirnya karena rasa tidak enak karena wali kelas saya sudah memperjuangkan saya, dan atas dasar alasan "coba-coba" akhirnya saya ikut juga. 3 bulan kemudian tepat sebulan setelah ujian nasional saya ditelepon sama wakasek kalo saya lulus masuk unhas lewat jalur JPPB untuk jurusan hubungan internasional, waktu saya ke sekolah untuk ambil ijazah seketika itu juga saya bisa merasakan atmosfer kesinisan orang-orang yang memang sudah tidak suka sama saya, bagaimana bisa seorang dita yang "biasa-biasa" saja, yang tukang bolos, yang tukang tidur di kelas bisa lulus bebas tes di unhas, sedangkan mereka yang susah payah belajar, ikut segala macam les, masih harus merasakan siksanya ngantri untuk ambil formulir pendaftaran, ikut SPMB, tes ini tes itu dan bla bla bla. sedangkan saya tinggal bersantai-santai di rumah menunggu saat- saat penerimaan mahasiswa baru. dan saya bisa merasakan mereka berteriak dalam hati dimanakah keadilan?
kasus keempat: minggu lalu saya ketemu teman sma saya di toko buku, dia sekelas dengan saya waktu kelas satu, bisa di bilang dia termasuk anak paling cerdas di kelas, waktu penaikan kelas 2 saya pisah kelas sama dia karena dia yang dasarnya emang pintar masuk ke kelas ipa, dan saya masuk ke kelas ips.
sambil berbasa-basi-busuk saya nanya "kuliah dimana sekarang?"
dia jawab "belum kuliah, tunggu tahun depan"
saya nanya lagi "loh? kenapa? mau kerja dulu?"
dia jawab lagi "bukan. kemarin nda lulus, jadi tunggu tes tahun depan"
jeng jeng jeng... saya langsung bingung sendiri, kok bisa orang secerdas dia ngak lulus. tapi sekali lagi dimanakah keadilan?
so saya dan ibu saya berspekulasi bahwa sebenarnya tuhan itu memang maha adil, karena di balik semua itu pasti ada hikmah yang tersembunyi. tapi malangnya nasib, dunia memang tidak pernah adil kepada kita.
No comments:
Post a Comment