People come and go. Friends become
enemies. Lovers become strangers. Some said that’s life, that’s beyond our
control, and that’s a part of growing up.
But, what if I told you this?
Those are under your control. You made
that happened. You chose that.
First case, ketika seorang teman sudah
tidak bisa lagi kalian anggap teman, mereka bersalah dan kalian tidak bisa
menerima, kalian ada pada titik didih dimana kalian berfikir bahwa saatnya
mengorbankan pertemanan yang sudah terjalin sekian lama, they no longer deserve
to be your friend.
Second case, ketika pasangan kalian
tidak bisa lagi mengerti apa yang kalian inginkan, they do the same mistakes
over and over again, mereka membuat kalian lebih banyak murung daripada
tertawa, mereka tidak meringankan beban tapi justru menambah, kalian tidak lagi
merasa bangga memiliki satu sama lain, kalian ada pada titik deadlock, jalan
buntu, tidak ada cara lain selain mengakhiri, mereka yang dulu kalian puja-puja
sudah tidak pantas lagi untuk dipuja.
Pada saat-saat seperti itu kalian
akan berhenti melangkah, mengambil nafas, menyerahkan semuanya pada tuhan dan takdir, mengambil
keputusan, lalu mengkambing-hitamkan takdir dan sedikit menyalahkan tuhan atas nasib yang kalian terima. Kalian tidak sadar bahwa ketika
kalian mengambil keputusan, kalian yang menentukan nasib. Kalian kehilangan
teman karena kalian enggan memaafkan, kalian kehilangan pasangan karena kalian
gengsi pada toleransi, segan pada kompromi, dan kalah pada emosi.
Setiap hati memiliki dua sisi yang
tidak sama besar, sisi hati yang lebih besar selalu mendominasi sisi yang lebih
kecil. Saat kalian marah, yang mendominasi hati kalian adalah perasaan tidak
terima dengan perlakuan orang lain, tidak terima dengan rasa sakit, yang
menuntun kalian untuk membalas menyakiti, kalian tidak mau diam
saja. Segala hal yang negatif mendominasi sisi kecil dari hati kalian yang
masih mau memaafkan, yang masih bisa menerima, yang masih mempertimbangkan
bahwa mungkin saja kalian juga melakukan kesalahan yang sama tapi kalian tidak
pernah sadari. Namun apa daya si hati kecil, hati besar telah mendominasi,
menjajahnya dengan kekuasaan yang lebih kuat, memaksakan otak menganggapnya sebagai
logika dan merealisasikannya dalam tindakan. Begitulah prosesnya, proses yang
kalian anggap takdir, yang membentuk diri kalian, yang kalian ceritakan ke
orang-orang sehingga mereka mendapatkan versi cerita berdasarkan dominasi si
hati besar, kalian membuat orang-orang berempati karena si hati besar yang
mendominasi memiliki kekuatan persuasif, dan kemudian kalian mendapatkan
pembenaran.
Tapi kalian lupa bahwa si hati kecil
masih hidup walau terintimidasi, dia menunggu saat hati besar lengah dan
mengeluarkan racun penyesalan atas keputusan yang kalian ambil, kalian kembali
terpuruk, bukan karena disakiti orang lain atau karena tidak terima, tapi
kalian terpuruk karena menyadari bahwa diri kalian sendirilah yang bersalah,
yang kalah pada emosi, yang buta karena kenegatifan.

Besar Kecil Go AHead
ReplyDelete