Saturday, December 11, 2010

Don't forget to take a breath!

saya punya satu penyakit kalo ketemu dengan seseorang yang saya suka, penyakit itu adalah saya tidak bisa mengontrol rasa nervous saya, yaaaaang pada akhirnya akan berujung dimana saya salah tingkah lalu melakukan hal-hal bodoh, aneh, dan ngak jelas. ini sangat sangat menyiksa, karena setelah saya melakukan hal bodoh itu si gebetan akan dengan mudahnya terkena serangan ilfeel ke saya, hmmm maybe that's why saya ngak pernah bisa jadian sama orang yang saya suka setengah mati, karena saya bukannya bikin si dia terkesan tapi malah ngelakuin hal-hal yang bego dan aneh di depan dia.
saya teringat midnight talk saya dengan salah satu teman lama beberapa hari lalu, waktu itu saya sempat cerita tentang penyakit saya ini, dan dia kasi saya saran yang sangat membantu.
teman saya ini bilang caranya adalah ketika saya ketemu sama si gebetan hanya ada satu hal yang harus saya ingat: JANGAN LUPA BERNAFAS!
awalnya saya ngak ngerti maksudnya dia, emang ada orang yang bisa lupa bernafas? tapi akhirnya setelah besoknya saya ketemu lagi sama si gebetan, kata-kata teman saya ini terbukti, nafas saya memang lebih sering ditahan-tahan dan ini yang bikin saya nervous terus karena (MUNGKIN, maaf saya kurang ngerti masalah kesehatan) kadar oksigen yang saya hirup jadi berkurang. and then waktu saya ingat untuk menarik nafas secara normal lagi, it works, it makes me feel better.
dan satu lagi saran teman saya untuk mengurangi rasa nervous ketika kita ketemu sama si gebetan, jangan anggap dia terlalu spesial, anggap dia biasa-biasa saja, anggap dia seperti teman-teman kita yang lain, dan semuanya akan berjalan baik-baik saja dan lancar-lancar saja. and it damn right. coba deh kalian pikir-pikir, kita hampir ngak pernah ngelakuin hal-hal aneh dan memalukan di depan orang yang kita anggap biasa-biasa saja, di depan teman-teman kita misalnya, kita luwes-luwes aja buat ngomong dan ngelakuin apapun, dan si teman juga bakal liatnya kita ngelakuin hal yg normal, yang biasa-biasa aja, beda kalo kita ngelakuin sesuatu didepan orang yang kita suka, kita serasa punya beban buat jaga image yang akhirnya bikin kita salah tingkah yang berujung ke hal-hal bego. itu karena kita selalu nganggap si gebetan ini orang yang spesial, orang yang tidak biasa, yang perlu kita treat lebih daripada orang lain, dan well berdasarkan pengalaman hal-hal kayak gitu justru bikin si gebetan jadi risih dan ngak nyaman, apalagi kalo di depan banyak orang.
mungkin ini bisa jadi satu pelajaran baru, atau satu pertimbangan baru buat kita pikirkan, cobalah untuk mem"biasakan" orang yang kita suka, jangan anggap dia spesial kalo kita lagi bareng, ini bisa bikin kita terhindar dari aksi salah tingkah yang bego di depan dia. and dont forget to take a breath. it works.

thanks to kak fuad, for the midnight talk, dan buat saran-sarannya. you're born to be the bestfriend of anyone. semoga langgeng terus deh sama si J. haha

Tuesday, December 7, 2010

Material Girl

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sempat membicarakan sesuatu yang menarik dengan salah satu sahabat saya. Kita membicarakan masalah sifat materialistis para perempuan dalam memilih calon pendamping.
Well kami berdua termasuk orang-orang yang selektif dan realistis untuk urusan cowok, kami tipe orang-orang yang tentu akan menolak cinta kalau cinta itu tidak bisa memberikan kami kehidupan yang layak seperti yang kami punya sekarang, siapa sih yang mau hidup susah?
Tapi entah angin darimana yang tiba-tiba membawa satu pemikiran yang baru bagi saya, saya merasa saya terlalu dangkal kalau mau menilai kualitas suatu hubungan hanya berdasarkan materi, it’s okay kita memang butuh materi, tapi pernahkah sebelumnya terlintas dipikiran saya kalau materi yang dimiliki pacar-pacar saya yang dulu itu hanya milik orang tuanya? Which is kalau kita mau menilai personalitynya dia belum tentu lebih baik dari cowok-cowok yang lain, hanya kebetulan saja dia terlahir di keluarga yang tepat sampai dia bisa punya fasilitas yang tidak biasa. Well saya tidak ingat apa saya pernah berpikir seperti itu sebelumnya.
Dan yang seharusnya kita pikirkan dalam memilih calon pendamping adalah masa depannya, apakah si calon berpotensi untuk menjadi orang sukses dan memberikan kita kehidupan yang layak, atau dia hanya berpotensi untuk membuat masalah dan bergantung pada orang tuanya bahkan sampai setelah kita menikah?
Dalam keluarga saya toh banyak sekali contoh yang nyata bagaimana kekayaan materi tidak menjadi acuan dalam memilih pendamping hidup. Contoh yang paling dekat adalah orang tua saya sendiri. Ayah saya bukan berasal dari keluarga bangsawan ataupun kaya raya, ayah saya orang yang sangat biasa, sedangkan ibu saya bisa dibilang menjalani masa muda dengan segala kemewahan dan kenyamanan fasilitas dari orang tuanya, tapi ketika saya bertanya kenapa ibu saya yakin untuk menikah dengan ayah saya, ibu saya bilang kalau dia melihat potensi besar dalam diri ayah saya, ada sikap tanggung jawab dan pekerja keras dalam diri ayah saya, dan ibu saya tentunya bukan hanya berteori saja, tapi faktanya pada saat mereka menikah ayah saya memang sudah bekerja dan punya penghasilan. Dan toh hasilnya saya bisa melihat sendiri bagaimana ayah saya bertransformasi dari orang yang biasa-biasa saja menjadi orang yang punya pengaruh besar, dia punya pekerjaan yang bagus, mapan, dan yang paling penting, dia mampu memberikan kehidupan yang lebih daripada layak kepada keluarganya.
Contoh lain adalah sepupu saya sendiri, sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan, terbiasa dengan fasilitas dan kenyamanan dari orang tuanya, tapi pada akhirnya dia memilih menikah dengan seorang laki-laki yang biasa-biasa saja, yang kehidupannya tidak seperti kehidupan yang selama ini dia jalani, tapi apa yang membuat sepupu saya yakin? Karena suaminya itu sarjana kedokteran sama seperti dia. See? Kita bisa melihat bahwa yang menetukan kehidupan kita akan lebih baik atau tidak di masa depan bukan apa yang calon pasangan kita miliki sekarang, tapi modal apa yang dia miliki untuk memperbaiki nasib kita nanti.
Dan ketika sampai pada pembahasan ini saya dan sahabat saya baru sadar lagi, kok pembahasan kita jauh banget ya? Seakan-akan kita udah mau merried aja, lulus kuliah aja belum.
So bagaimana kalau untuk cari pacar? Jawabannya justru akan jauh lebih simple lagi, karena kita tidak punya beban apa-apa dan tanggung jawab apapun untuk menafkahi siapapun. Mungkin bagi saya dan sahabat saya ini suatu yang baru karena sekali lagi kami terbiasa dengan fasilitas. Kalau ternyata pada saat kencan si pacar tidak punya fasilitas toh kita bisa janjian di tempat tujuan, kita kesana dengan fasilitas yang biasa kita gunakan, dia juga kesana dengan fasilitas yang biasa dia gunakan, lalu kita ketemu, menikmati waktu kencan, dan pulangnya kembali lagi kita pulang dengan fasilitas masing-masing. Yah mungkin kita tidak bisa merasakan yang namanya diantar atau dijemput pacar, but is that really matter? Sedangkal itukah kita untuk menikmati hubungan hanya dengan ukuran antar jemput?
Tapi ketika saya membicarakan hal ini dengan orang yang berbeda, orang itu memiliki pandangannya sendiri, dia bilang walau bagaimanapun kita tetap harus mempertimbangkan bibit-bebet-bobotnya si cowok, bagaimana latarbelakang keluarganya dia, ini bukan karena kita mau menguras apa yang si cowok punya, tapi sebagai suatu jaminan kalau suatu hari nanti terjadi hal-hal diluar keinginan (merried by accident misalnya) kita tau bahwa keluarga si cowok mampu menopang kehidupan kita dan anak kita selama si cowok ini belum bisa memberikan kehidupan yang layak. Karena hidup jaman sekarang itu susah, kalau kita sendiri tidak punya strategi, kita tidak mungkin bertahan. Hmm.. masuk akal juga sih, sangat masuk akal malah, kita memang harus punya pegangan kan, harus ada jaminan bahwa kita akan baik-baik saja karena kita tidak pernah tau apa yang bakalan kejadian.
So which one is better? You choose..


ternyata saya punya benih-benih materialistis sejak kecil, buktinya saya cuma mau berpose diatas mobil. ;D