I'm not gonna love you till the sun refuse to shine
I'm not gonna love you till the world's fall apart
I'm not gonna love you till the end of the time
I will love you only as long as you love me too
If you stop loving me, then I'll quit.
Saturday, April 23, 2011
Thursday, April 14, 2011
What Makes You Beautiful Makes You Stupid
akhir-akhir saya baru kepikiran tentang how much pain, how much "rempong", and how much money yang saya keluarkan untuk hal-hal yang berbau KECANTIKAN.
yap, kecantikan untuk jaman sekarang dan untuk beberapa orang udah jadi kebutuhan primer, it's a must have, hal yang hukumnya "wajib" buat cewek-cewek. hari gini gak ngerawat diri?? ke laut aja kaleeee..
teman saya pernah bilang ke saya "what makes you beautiful makes you stupid", dan selama beberapa hari terakhir saya kepikiran terus sama kalimat itu.
saya mulai kepikiran tentang gimana sakitnya gigi saya yang pake behel tiap habis kontrol ke dokter, gimana seringnya saya menderita sariawan karena behel, belum lagi kalo ada kawatnya yang nusuk. terus dengan relanya saya menahan kesakitan kalo komedo-komedo saya dibersihkan pas lagi facial, bagaimana perihnya peeling buat ngilangin bekas jerawat. terus kalo pagi-pagi sebelum beraktifitas saya harus melakukan ritual rempong ngeblow atau ngecatok rambut biar rambut saya yang aslinya kayak rambut singa bisa keliatan rapi dan bagus, belum lagi karena catokan tiap hari itu saya harus sering-sering ke salon buat perawatan supaya rambut saya gak rusak. and then how much money that i spend for all of this stuff, dan semua itu hanya untuk label bernama KECANTIKAN.
isn't that stupid? wo got pain, we spend a lot of money untuk hal-hal yang kita anggap bisa bikin kita kelihatan lebih cantik, padahal diantara semua "beauty stuff" yang kita lakukan itu gak ada yang pernah pasang label "dijamin cantik" setelahnya. "beauty after that" hanya asumsi kita sendiri. itu belum termasuk dengan uang-uang yang kita keluarkan tiap bulan buat beli baju baru, tas baru, sepatu baru, dengan alasan kalo kita udah gak punya baju bagus atau di lemari kita belum ada baju atau tas atau sepatu yang modelnya kayak begitu, padahal di dalam lemari kita sendiri udah bertumpuk-tumpuk baju yang gak pernah dipakai, atau tas yang ditelantarkan, parahnya lagi waktu lagi beres-beres saya pernah nemuin baju di lemari yang gak pernah saya pakai dan masih ada labelnya, dan saya betul-betul blank kapan saya beli baju itu. saya bukan seorang shopaholic, saya mungkin hanya the impulsive buyer sama kayak nadja di novelnya beauty case, kita suka impulsif kalo belanja, tapi kita masih bisa nahan diri dan bedain mana kebutuhan dan mana keinginan, disamping karena budget emang gak memungkinkan buat jadi shopaholic. tapiii dari semua itu kita melakukannya demi penampilan, demi kecantikan.
and then i wonder why actually we do that anyway? kenapa kita mesti kelihatan cantik? apa untuk pujian dan sanjungan? apa untuk menarik hati cowok-cowok? untuk menang dalam beauty contest memperebutkan piala cowok cakep berkualitas dimana lawan-lawan kita adalah cewek-cewek yang cantiknya luar biasa? apa semua cowok sedangkal itu ngelihat kita dari kecantikan fisik doang yaa?
atau mungkin untuk alasan yang lebih absurb, kita ingin kemudahan. well kita gak bisa bohong kalo kadang-kadang orang-orang yang lebih cantik lebih sering dapat kemudahan-kemudahan tak terduga, misalnya bantuan sukarela kalo barang-barang kita jatuh, antrian panjang di ATM atau counter makanan bisa jadi pendek, nilai dari dosen tertentu bisa berubah jadi sangat bagus kalo kita cantik dan rajin duduk di depan dia, dan bahkan untuk teman-teman kita sendiri yang cowok-cowok, mereka bakal lebih protective sama kita kalo lagi jalan, karena ada-ada aja orang dijalan yang ngegodain. but do we need all of this anyway?
ya kita para cewek-cewek emang bego, dan karena itu kita jadi sering dibego-begoin sama cowok :p
tapi kecantikan atau being beauty adalah naluri alamiah dari seorang perempuan. produk-produk kecantikan hanya memakai perempuan sebagai icon-nya, karena perempuan adalah refleksi alami dari sebuah kecantikan, dan karena kita bersifat konsumtif makanya kita sering jadi target eksploitasi, bukan cuma dari pemasaran produk-produk kecantikan, tapi bahkan dari bentuk-bentuk kriminalitas, woman trafficking. jadi perempuan juga gak bisa sepenuhnya disalahkan, karena tuhan menciptakan perempuan dengan keindahan, budaya memberi tradisi dan masyarakat membentuk opini publik bahwa perempuan harus selalu keliatan cantik dan memperhatikan penampilan, dan media memperparah dengan segala macam iklan-iklan produk kecantikan. so here we are, perempuan-perempuan yang terperangkap dalam segala cara untuk mempercantik diri. cowok-cowok bilang kita adalah korban dari pembodohan diri, tapi kita membela diri dengan bilang kalo kita adalah korban dari budaya, pembodohan publik, dan eksploitasi media.
yap, kecantikan untuk jaman sekarang dan untuk beberapa orang udah jadi kebutuhan primer, it's a must have, hal yang hukumnya "wajib" buat cewek-cewek. hari gini gak ngerawat diri?? ke laut aja kaleeee..
teman saya pernah bilang ke saya "what makes you beautiful makes you stupid", dan selama beberapa hari terakhir saya kepikiran terus sama kalimat itu.
saya mulai kepikiran tentang gimana sakitnya gigi saya yang pake behel tiap habis kontrol ke dokter, gimana seringnya saya menderita sariawan karena behel, belum lagi kalo ada kawatnya yang nusuk. terus dengan relanya saya menahan kesakitan kalo komedo-komedo saya dibersihkan pas lagi facial, bagaimana perihnya peeling buat ngilangin bekas jerawat. terus kalo pagi-pagi sebelum beraktifitas saya harus melakukan ritual rempong ngeblow atau ngecatok rambut biar rambut saya yang aslinya kayak rambut singa bisa keliatan rapi dan bagus, belum lagi karena catokan tiap hari itu saya harus sering-sering ke salon buat perawatan supaya rambut saya gak rusak. and then how much money that i spend for all of this stuff, dan semua itu hanya untuk label bernama KECANTIKAN.
isn't that stupid? wo got pain, we spend a lot of money untuk hal-hal yang kita anggap bisa bikin kita kelihatan lebih cantik, padahal diantara semua "beauty stuff" yang kita lakukan itu gak ada yang pernah pasang label "dijamin cantik" setelahnya. "beauty after that" hanya asumsi kita sendiri. itu belum termasuk dengan uang-uang yang kita keluarkan tiap bulan buat beli baju baru, tas baru, sepatu baru, dengan alasan kalo kita udah gak punya baju bagus atau di lemari kita belum ada baju atau tas atau sepatu yang modelnya kayak begitu, padahal di dalam lemari kita sendiri udah bertumpuk-tumpuk baju yang gak pernah dipakai, atau tas yang ditelantarkan, parahnya lagi waktu lagi beres-beres saya pernah nemuin baju di lemari yang gak pernah saya pakai dan masih ada labelnya, dan saya betul-betul blank kapan saya beli baju itu. saya bukan seorang shopaholic, saya mungkin hanya the impulsive buyer sama kayak nadja di novelnya beauty case, kita suka impulsif kalo belanja, tapi kita masih bisa nahan diri dan bedain mana kebutuhan dan mana keinginan, disamping karena budget emang gak memungkinkan buat jadi shopaholic. tapiii dari semua itu kita melakukannya demi penampilan, demi kecantikan.
and then i wonder why actually we do that anyway? kenapa kita mesti kelihatan cantik? apa untuk pujian dan sanjungan? apa untuk menarik hati cowok-cowok? untuk menang dalam beauty contest memperebutkan piala cowok cakep berkualitas dimana lawan-lawan kita adalah cewek-cewek yang cantiknya luar biasa? apa semua cowok sedangkal itu ngelihat kita dari kecantikan fisik doang yaa?
atau mungkin untuk alasan yang lebih absurb, kita ingin kemudahan. well kita gak bisa bohong kalo kadang-kadang orang-orang yang lebih cantik lebih sering dapat kemudahan-kemudahan tak terduga, misalnya bantuan sukarela kalo barang-barang kita jatuh, antrian panjang di ATM atau counter makanan bisa jadi pendek, nilai dari dosen tertentu bisa berubah jadi sangat bagus kalo kita cantik dan rajin duduk di depan dia, dan bahkan untuk teman-teman kita sendiri yang cowok-cowok, mereka bakal lebih protective sama kita kalo lagi jalan, karena ada-ada aja orang dijalan yang ngegodain. but do we need all of this anyway?
ya kita para cewek-cewek emang bego, dan karena itu kita jadi sering dibego-begoin sama cowok :p
tapi kecantikan atau being beauty adalah naluri alamiah dari seorang perempuan. produk-produk kecantikan hanya memakai perempuan sebagai icon-nya, karena perempuan adalah refleksi alami dari sebuah kecantikan, dan karena kita bersifat konsumtif makanya kita sering jadi target eksploitasi, bukan cuma dari pemasaran produk-produk kecantikan, tapi bahkan dari bentuk-bentuk kriminalitas, woman trafficking. jadi perempuan juga gak bisa sepenuhnya disalahkan, karena tuhan menciptakan perempuan dengan keindahan, budaya memberi tradisi dan masyarakat membentuk opini publik bahwa perempuan harus selalu keliatan cantik dan memperhatikan penampilan, dan media memperparah dengan segala macam iklan-iklan produk kecantikan. so here we are, perempuan-perempuan yang terperangkap dalam segala cara untuk mempercantik diri. cowok-cowok bilang kita adalah korban dari pembodohan diri, tapi kita membela diri dengan bilang kalo kita adalah korban dari budaya, pembodohan publik, dan eksploitasi media.
Subscribe to:
Comments (Atom)